True Friend

Maret 12, 2018

Image result for girl true friend
source: click! click!

Sebenernya mau buat judul "Sahabat",  tapi kok kayaknya terlalu klasik gitu
Kalau buat 'Teman" kurang dalem maknanya.
Jadilah True Friend yang cukup menyampaikan maksud dari tulisan ini.


Kadang ya suka heran sama orang-orang yang temenan -well sebagian mereka menyebutnya sahabatan- tapi menurut aku tuh terlalu kaku untuk ukuran sahabatan.
You know what I mean. Kaku, terlalu biasa, terlalu sopan, terlalu saling menjaga perasaan, terlalu formalitas, ya itulah maksudnya.
Ya emang sifat orang beda-beda sih ya dalam temenan. Ada yang temenan emang sifatnya sama-sama sopan, ada yang sama-sama flat, ada yang sama-sama sakau, etc.
Tapi kadang aku penasaran juga, misalnya nih orang yang sama-sama sopan atau sifatnya flat, kalau temenan gimana sih ya? saling menghormati gitu? wkwkkwk
Karena... kalau aku personal sih ngerasa gak "ugh" aja gitu kalau temenan -okay lebih tepatnya sahabatan- tapi sopan-sopanan lol

Yah, aku ga bilang kesopanan dan saling menghormati salah sih, It's good, really good.
But somehow, I don't think it works on my friendship terms. Mungkin kalau ke teman yang memang hanya benar-benar 'teman' , aku bakal sopan juga sih. Ya maksudnya kalau teman biasa itu emang banyak yang harus dijaga, ada standard dan terms and condition-nya. Karena sepemahaman aku, teman itu hanya orang yang kita kenal dan mungkin berinteraksi beberapa kali, and we're not really that close to speak freely and talk trashy and dirty with them.
Sementara itu, sahabatan yang bener-bener sahabat itu ya kebalikan dari teman tadi.
Aku sebagai sahabat nya sahabatku, sangat peduli sama kehidupan mereka, well apalagi kalau masalah asmara, keluarga, dll. Kasarnya sih kepo. Kami semua saling kepo satu sama lain.
Dan ke-kepo-an itu menurutku salah satu hal yang lumrah dalam persahabatan. Kepo bukan berarti memaksa ya. Kalau merekanya juga lagi ga mau jawab atau memang ga mau jawab yaudah. tapi setidaknya ke-kepo-an yang aku maksud itu adalah peduli, dan gak takut ataupun segan buat nanyain sesuatu sama sahabat kita sendiri. maksudnya ya aku tuh suka aja gitu nanya-nanya "eh sama si ini gimana? dia gimana sih orang nya? " well kalau persahabatannya mungkin udah kental bak susu kental manis nestle, mungkin tingkat ke-kepo-an nya juga lebih tinggi lagi, misalnya "udah ngapain aja sama dia? gimana rasanya?" Yaa, emang se-vulgar itu. The vulgar, the deeper friendship. 

Jadi kalau ada orang-orang yang ngakunya sahabatan tapi bahkan untuk menanyakan sesuatu hal yang kayak aku sebutin diatas tadi itu aja segan, masih jaga-jaga perasaan, well I think you should think more bout your relationship. Is that really friendship? maybe you're just friends, wihtout ship. so you wouldn't sail lol.


True friend, don't need a daily convos. Aku sama sahabat-sahabatku bisa aja gak chattingan di group selama beberapa hari, minggu bahkan bulan, gak ketemu juga berbulan-bulan, pas udah ketemu, ya perasaan deket itu tetap ada. Ga canggung, ga nuntut kenapa ga pernah ngajak chat atau ketemu. Setidaknya diumurku yang sudah terbilang lumayan ini, aku makin sadar, semakin tua emang kadang kita udah makin males buat basa-basi yang ga penting bahkan sama sahabat sendiri.
Aku punya group chat di line, isinya temen-temen SMA yang memang sampe sekarang masih keep contact, tapi kami juga chat di group ya gak nentu. Kadang kalau ada yang mau ditanya aja, kadang cuman ucapin happy sunday doang, seringnya sih gosipin ini itu WKWK.
ada lagi deh, bicarain skin care yang ga ada habisnyaa *typical conversation of gurls*
Di group juga gak jarang segala bentuk dan jenis makian saling diucapkan satu ke yang lainnya, bahkan mungkin makian level advanced yang kalau kita bikin ke teman yang lain bakal langsung sakit hati, ginjal, paru dan jantungnya.

Kalau aku pribadi emang udah masuk dan ngerasain 2 jenis sahabatan kyak yang aku jelasin diatas.
1. Sahabat yang emang udah bener2 ga ada batas, semua2nya diceritain, panggil pake nama segala jenis binatang juga ga masalah, bicarain hal-hal jorok sudah jadi lumrah
2. Sahabat sehat, tempat berbagi cerita -khususnya kesedihan jomblo di Ibu Kota ini- , saling menasehati, memberi dukungan, dan terkadang awkard karena ga bisa bicara se-lepas dan se-leluasa kayak di persahabatan jenis 1

Well dua-duanya ngasih aku pelajaran hidup yang berbeda sih. Kalau yang jenis 1, bikin aku sadar bahwa ada orang yang masih benar-benar nerima aku apa adanya dari kelakuanku yang dulu-dulu sampai perubahanku sekarang, mereka ga masalah.
Kalau jenis yang ke-2, bikin aku ngerti kapan harus ngontrol mulut ku yang terkadang sampah ini, bikin aku nyadar juga bahwa ga semua orang punya perasaan yang sama untuk hal atau kejadian yang sama, sama yang aku alamin.

Intinya sih kalau sahabatan yang emang udah dewasa menurutku aku, gak menuntut. Ya mungkin ini bisa juga diaplikasikan ke hubungan pacaran kali ya.
And you know what, pembicaraan diumur segini dengan sahabat yang mana pun ga jauh-jauh dari :
"Gimana ya kita kok jomblo terus?" , "Kapan ya kita kayak si ini itu jalan sm cowonya" dan sejenisnya. Kadang capekkk ngomongin yang itu-itu aja tapi yaa gatau juga kenapa, pasti kalau udah ngobrol ngalor-ngidul ya emang topiknya jatuh ke situ-situ juga.
Hhhhh...


You Might Also Like

0 komentar